Jumat, 29 Mei 2009

MEDIA DAKWAH, MAD’U, TUJUAN DAKWAH

oleh Fajar Burnama



“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl;125)

Dalam dakwah, ada dua segi dakwah yang tidak dapat dipisahkan, tetapi dapat dibedakan, yaitu menyangkut isi dan bentuk, subtansi dan forma, pesan dan cara penyampaiannya, esensi dan metode. Dakwah menyangkut kedua-duanya sekaligus dan tidak terpisahkan. Hanya saja, perlu disadari bahwa isi, substansi, pesan, dan esensi senantiasa mempunyai dimensi universal, yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dalam hal ini subtansi dakwah adalah pesan keagamaan itu sendiri, itulah sisi pertama dalam dakwah. Sisi kedua meskipun tidak kurang pentingnya dalam dakwah, yakni sisi bentuk, forma, cara penyampaian dan metode, disebutkan dalam Alqur’an sebagai minhaj yang dapat berbeda-beda menurut tuntutan ruang dan waktu.1
Berdasarkan paparan singkat di atas, dakwah dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.Apa (what), adalah ajaran islam dengan berbagai dimensi dan substansinya. Bisa dikutip dari sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Dikenal juga dengan materi atau pesan dakwah
2.Siapa pertama (who), yakni yang menyeru atau yang menyampaikan disebut da’i. Sering juga disebut juga mubaligh, juru dakwah, penceramah, dan lain sebagainya.
3. Siapa kedua (whom), yaitu sasaran dakwah atau mad’u. Ia adalah peserta dakwah, baik perseorangan atau kolektif atau kelompok, laki-laki atau perempuan, anak-anak ataupun dewasa, demikian seterusnya.
4.Cara (how), menunjukkan metode yang digunakan dalam kegiatan dakwah. Juga dapat disamakan sebagai alat dakwah yang menjadi kelengkapan dari metode.
5.Saluran (channel), merupakan media yang digunakan dalam berdakwah. Ia dapat berupa tatap muka langsung (face to face). Juga dapat berupa saluran dalam jarak jauh seperti telepon, radio, dan televise.
6.Untuk (why), menunjukkan tujuan dakwah. Tujuan dapat dipilah dengan isltilah target, objective, purpose, aim, dan goal (intermediate goal dan ultimate goal).

Kita akan membahas mengenai beberapa aspek dalam dakwah, yakni :
1.Media Dakwah
Gerakan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah adalah gerakan yang penuh berkah (ash-shahwah al-mubarakah); gerakan yang penuh moderat (shahwah mu’tadilah), terpada, terkendali, berkesinambunag dan jauh dari unsur ekstrimisme (at-tatharruf).2 Setiap melaksanakan dakwah, setiap da’i harus selalu mengikuti prinsip gerakan dakwah Rasulullah saw, tersebut, karena telah terbukti keberhasilannya dan merupakan bentuk kecintaan kita sebagai pewaris para Nabi kepada beliau saw,.
Membicarakan media dakwah tidak lepas dari metode yang dilakukan dalam melakukan dakwah. Pengembangan metode dakwah tabligh sangat berkaitan media yang harus menyertainya. Seorang da’i harus mampu memilih media dakwah yang relevan denagn kondisi mad’u yang telah dipelajari secara komprehensif dan berkesinambungan. Kegiatan dakwah yang dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi mad’u akan lebih memberikan dampak, karena kemudian dakwah dilakukan dengan media dan metode yang sesuai.
Seorang da’i hendaklah memilih metode dan media yang dari masa ke masa terus berkembang, seperti mimbar, panggung, media cetak, atau elektronik (radio, internet, televisi, komputer). Kemudian dengan mengembangkan media atau metode kultural dan struktural, yakni pranata sosial, seni, karya budaya, dan wisata alam. Juga dengan mengembangkan dan mengakomodasikan metode dan media seni budaya masyarakat setempat yang relevan, seperti wayang, drama, musik, lukisan, dan sebagainya.
Dengan penjelasan di atas, maka media dakwah terdiri dari :

Media Fisik :
Mimbar
Panggung
Media cetak (Majalah, Buletin, Surat Kabar, dll)
Media elektonik (Radio, Televisi, Internet, dll)
Media Kultural dan Struktural :
Pranata sosial
Seni (Wayang, Drama, Musik, Lukisan, cerita/dongeng, dll)
Karya budaya
Wisata alam

2.Mad’u
Mad’u adalah sasaran dakwah. Ia adalah peserta dakwah, baik perseorangan maupun kolektif atau kelompok, laki-laki atau perempuan, anak-anak ataupun dewasa, demikian seterusnya.
Dari segi intelektualitas, mad’u dapat dibedakan menjadi :
a.Kaum cendekiawan, yaitu golongan yang dapat menerima penjelasan ilmu, amal, dan penjelasan aqidah dengan pengajaran,
b.Kaum yang mengakui, dan menerima kebenaran, tetapi sering lalai dan mengikuti hawa nafsu, maka dakwah dilakukan dengan memberi nasihat yang baik (berupa motivasi dan ancaman),
c.Kaum yang keras hati (penentang), kepada mereka kita gunakan cara mujadalah yang baik dalam berdakwah,
d.Kaum penentang dan zhalim, maka dakwah yang dilakukan adalah dengan mujadalah yang baik, namun dapat pula dengan menggunakan kekuatan sebagai cara pamungkas.
Pesan serta metode dakwah harus disesuaikan dengan mad’u agar dakwah kita berhasil. Berikut ragam pesan dakwah yang berisi metode yang dapat disesuaikan dengan mad’u :
a.Nasihat yang baik
Berisi pengajaran
Berisi pembinaan moral
b.Memberi Motivasi dan Ancaman
Memberi motivasi dan kabar gembira
Dengan janji, berisi janji-janji Allah bagi manusia yang taat, baik untuk di dunia maupun di akhirat
Dengan menyertakan macam-macam bentuk ketaatan
Memberi ancaman dan peringatan
Diberi azab, bagi orang yang inkar dan kufur terhadap Allah dan rasul-Nya. Baik yang akan ditimpakan juga yang telah menimpa orang terdahulu
Diberi azab di akhirat kelak
Siksa mental di hari kiamat
Hukuman atas dosa yang bermacam-macam
c.Memberi contoh-contoh bijak
Kisah-kisah orang taat masa lalu dan kini
Perumpamaan-perumpamaan yang berhikmah
Melihat sifat orang-orang terpuji

Mad’u utama bagi setiap da’i adalah keluarga dan kerabatnya yang terdekat, karena dengan demikian ia telah membuat model mad’u yang dapat ditiru oleh mad’u yang lebih luas.3 Kemudian seorang da’i harus mengkaji dan mempertimbangkan metode pendekatan spiritual dengan mad’u, antara lain melalui shalat, dzikir, doa, silaturahim, dan sebagainya. Sehingga ada ikatan batin yang kuat dan pesan dakwah pun akan mudah diterima, serta tujuan dakwah dapat tercapai dengan paripurna.

3.Tujuan Dakwah
Tujuan atau dalam bahasa Inggris dapat dipilah dengan isltilah target, objective, purpose, aim, dan goal (intermediate goal dan ultimate goal). Adalah sesuatu yang hendak dicapai dalam sebuah kegiatan. Begitu pula dengan kegiatan dakwah, yang memiliki tujuan-tujuan yang hendak dicapai.
Dari prespektif Sosiologi, tujuan dakwah yaitu membawa masyarakat pada keadaan yang lebih baik dan lebih maju daripada keadaan sebelumnya.4 Menurut para ahli sosiologi, teori tentang kemajuan selalu menyangkut dua lokus perkembangan. Pertama, perkembangan dalam struktur atas atau kesadaran manusia tentang diri sendiri dan alam sekelilingnya. Kedua, perkembangan struktur bawah atau kondisi social dan material dalam kehidupan manusia. Pemikir pertama pada zaman modern yang berbicara mengenai kesadaran atau cara berpikir manusia adalah August Comte.5 Dengan adanya dakwah yang dilakukan dengan terencana dan rapih serta dilakukan terus-menerus, maka mad’u (umat) akan masuk ke dalam suatu keadaan yang lebih baik dari keadaan sebelum mereka menerima dakwah.
Kondisi penduduk Makkah dan Madinah sebelum datangnya islam sungguh gelap, terjadi perampokan di mana-mana, perjudian, perzinaan, pembunuhan, kecurangan dalam perdagangan. Namun setelah islam datang, secara perlahan tapi pasti keadaan tersebut berbalik seratus delapan puluh derajat, bahkan seluruh penduduk di jazirah Arab menjadi model masyarakat terbaik yang pernah ada di muka bumi. Terciptanya khairul bariyyah dan khairul ummah adalah tujuan dilakukannya dakwah islam yang utama. Karena pembinaan individu harus bersamaan dengan pembinaan masyarakat, maka keduanya saling menunjang. Pribadi-pribadi tersebut menunjang terjadinya masyarakat dan masyarakat pun mewarnai pribadi-pribadi dengan warna yang dimilikinya.
Menurut Syukriadi Sambas,6 tujuan dakwah islam, yang merujuk pada Al-Qur’an sebagai kitab dakwah, dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.Merupakan upaya mengeluarkan manusia dari kegelapan hidup (zhulumat) pada cahaya kehidupan yang terang (nur). (QS. Al-Baqarah, 2: 257)
2.Menegakkan sibghah Allah (celupan hidup dari Allah) dalam kehidupan makhluk Allah. (QS. Al-Baqarah, 2: 138)
3.Menegakkan fitrah insaniah. (QS. Ar-Rum, 30: 30)
4.Memproporsikan tugas ibadah manusia sebagai hamba Allah. (QS. Al-Baqarah, 2: 21), (QS. An-Nisa, 4: 36), (QS. At-Taubah, 9: 31), dan (QS. Adz-Dzariat, 51: 56)
5.Mengestafetkan tugas kenabian dan kerasulan. (QS. Al-Hasyr, 59: 7)
6.Menegakkan aktualisasi pemeliharaan agama, jiwa, akal, generasi, dan sarana hidup. (QS. Asyuura, 42: 13), (QS. Ash-Shaaf, 61: 14)
7.Perjuangan memenangkan agama Allah atas agama lain,dengan pengamalan individu, keluarga, kelompok, dan komunitas manusia. (QS. Al-Anfal, 8: 39), (QS. Ash-Shaaf, 61: 9)

Al-Qur’an menjelaskan islam sebagai pesan dakwah memiliki karakteristik unik dan selalu masa kini, yaitu :
1.Islam sebagai agama fitrah. (QS. Ar-Rum, 30: 30)
2.Islam sebagai agama rasional dan pemikiran. (QS. Al-Baqarah, 2: 164)
3.Islam sebagai agama ilmiah, hikmah, dan fiqhiyah. (QS. Al-Baqarah, 2: 269)
4.Islam sebagai agama argumentative (hujjah) dan demonstrative (burhan). (QS. An-Nisa, 4: 172), (QS. Al-An’am, 6: 83)
5.Islam sebagai agama hati (qalb), kesadaran (wijdan), dan nurani (dhamir). (QS. Qaaf, 50: 37), (QS. Asy-Syu’ara, 26: 88-89), (QS. Ar-Ra’d, 13: 70)
6.Islam sebagai agama kebebasan (huriyah) dan kemerdekaan (istiqlal). (QS. Al-Baqarah, 2: 170, 256), (QS. Al-Maidah, 5: 107)
7.Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.(QS. Al-Anbiya, 21: 107) (QS. Luqman, 31: 3)


DAFTAR PUSTAKA

Muhyidin, Asep, Agus Ahmad Safei,. Metode Pengembangan Dakwah. Pustaka Setia Bandung.,2002.

Dr. A’id Abdullah al-Qarni. Alqur’an Berjalan, potret keagungan manusia agung. Sahara Publishers Jakarta. 2005.

Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Al-Qur’an, Alqur’an dan Terjemahnya Al-‘Aliyy. CV. Penerbit Dipenogoro. Bandung. 2005.
Sambas, Sukriyadi. Sembilan Pasal Pokok-pokok Filsafat Dakwah. KP Hadid. Bandung. 1998.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share it