Senin, 01 Februari 2010

ETIKA DAKWAH

oleh : FAJAR BURNAMA


1. Mengapa etika dakwah dibutuhkan dalam berdakwah, menurut dalil dan fenomena empirik?

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu, berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Kalau rentang waktu dibentangkan sejak Nabi Muhammad saw, membawa obor yang jadi Rahmat Seluruh Alam, maka kita akan menyaksikan betapa gerakan dakwah yang ada di Indonesia itu hanyalah satu titik dari rangkaian seluruh perjuangan umat Islam untuk menyelamatkan umat manusia. Jika gerakan di Indonesia itu diletakkan dalam kerangka waktu sejarah umat manusia sejak Nabi Adam, maka tiadalah artinya. Titiknya bahkan tidak terlihat lagi karena Indonesia sebagai sebuah negara nasional atau unit politik modern yang mengikuti pola Barat baru lahir tahun 1945.
Pertama kita bisa menginterpretasikan sebuah kerangka perjalanan umat Islam itu lahir karena krisis sosial, ekonomi serta politik. Ketidakpuasan terhadap lingkungan yang penuh dengan kezaliman dan kejahatan, maka penerapan atau aplikasi nilai Islam dalam kehidupan telah melahirkan berbagai respon dari berbagai lapisan umat.
Untuk kondisi saat ini, umat islam ada yang membentuk sebuah gerakan dakwah yang kemudian terlembagakan dalam bentukan unit politik yang disebut negara, namun ada pula yang meniupkan kebangkitan Islam untuk lepas dari kebodohan, kemiskinan dan penindasan penjajah dari Barat. Dari hal ini terlihat bahwa upaya umat Islam untuk bangkit tidak hanya muncul di Indonesia. Gerakan itu sudah muncul di berbagai wilayah di muka bumi yang dihuni umat Islam.
Persoalan hidup pada era globalisasi sekarang telah melahirkan banyak tantangan bagi gerakan dakwah, namun semua itu masih kurang tersentuh karena sebagian belum menemukan format yang tepat dengan perubahan lingkungan yang merupakan ayat-ayat yang seharusnya dipikirkan dengan akal budi manusia. Persoalan yang kita hadapi sekarang adalah tantangan dakwah yang semakin hebat, baik yang bersifat internal mau¬pun eksternal. Tantangan itu muncul dalam berbagai bentuk kegiatan masyarakat modern, seperti perilaku dalam menda¬patkan hiburan (enter¬tain¬ment), kepariwisataan dan seni dalam arti luas, yang semakin mem¬buka peluang munculnya kerawanan-kerawanan moral dan etika.
Kerawanan moral dan etik itu muncul semakin transparan dalam bentuk kemaksiatan karena disokong oleh kemajuan alat-alat teknologi informasi mutakhir seperti siaran televisi, keping-keping VCD, jaringan Internet, dan sebagainya. Kemaksiatan itu senantiasa mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas, seperti maraknya perjudian, minum minuman keras, dan tindakan kriminal, serta menjamurnya tempat-tempat hiburan, siang atau malam, yang semua itu diawali dengan penjualan dan pendangkalan budaya moral dan rasa malu.
Tidak asing lagi, akhirnya di negeri yang berbudaya, beradat dan beragama ini, kemaksiatan yang berhubungan dengan apa yang dinamakan sex industry juga mengalami kemajuan, terutama setelah terbukanya turisme internasional di berbagai kawasan, hingga menjamah wilayah yang semakin luas dan menjarah semakin banyak generasi muda dan remaja yang kehilangan jati diri dan miskin iman dan ilmu. Hal yang terakhir ini semakin buruk dan mencemaskan perkembangannya karena hampir-hampir tidak ada lagi batas antara kota dan desa, semuanya telah terkontaminasi dalam eforia kebebasan yang tak kenal batas.
Ledakan-ledakan informasi dan kemajuan teknologi dalam berbagai bidang itu tidak boleh kita biarkan lewat begitu saja. Kita harus berusaha mencegah dan mengantisipasi dengan memperkuat benteng pertahanan aqidah yang berpadukan ilmu dan teknologi. Tidak sedikit korban yang berjatuhan yang membuat kemuliaan Islam semakin terancam dan masa depan generasi muda semakin suram. Apabila kita tetap lengah dan terbuai oleh kemewahan hidup dengan berbagai fasilitasnya, ketika itu pula secara perlahan kita meninggalkan petunjuk-petunjuk Allah yang sangat diperlukan bagi hati nurani setiap kita. Di samping itu kelemahan dan ketertinggalan umat Islam dalam meng-akses informasi dari waktu ke waktu, pada gilirannya juga akan membuat langkah-langkah dakwah kita semakin tumpul tak berdaya. Lima hal yang harus dilakukan, agar dakwah Islam di era informasi sekarang tetap relevan, efektif, dan produktif :
Pertama, perlu ada pengkaderan yang serius untuk memproduksi juru-juru dakwah dengan pembagian kerja yang rapi serta berkelanjutan. Bukan hanya Ilmu tabligh, melainkan diperlukan pula berbagai penguasaan dalam ilmu-ilmu teknologi informasi yang paling mutakhir.
Kedua, setiap organisasi Islam yang berminat dalam tugas-tugas dakwah perlu membangun laboratorium dakwah. Dari hasil “Labda” ini akan dapat diketahui masalah-masalah riil di lapangan, agar jelas apa yang akan dilakukan.
Ketiga, proses dakwah tidak boleh lagi terbatas pada dakwah bil-lisan, tapi harus diperluas dengan dakwah bil-hal, bil-kitaabah (lewat tulisan), bil-hikmah (dalam arti politik), bil-iqtishadiyah (ekonomi), dan sebagainya. Yang jelas, actions,speak louder than word.
Keempat, media massa cetak dan terutama media elektronik harus dipikirkan sekarang juga. Media elektronik yang dapat menjadi wahana atau sarana dakwah perlu dimiliki oleh umat Islam. Bila udara Indonesia di masa depan dipenuhi oleh pesan-pesan agama lain dan sepi dari pesan-pesan Islami, maka sudah tentu keadaan seperti ini tidak menguntungkan bagi peningkatan dakwah Islam di tanah air.
Kelima, merebut kembali remaja Indonesia adalah tugas dakwah Islam jangka panjang. Anak-anak dan para remaja kita adalah aset yang sangat berharga. Mereka wajib kita selamatkan dari pengikisan aqidah yang terjadi akibat ‘invasi’ nilai-nilai non islami ke dalam jantung berbagai komunitas Islam di Indonesia. Bila anak-anak dan remaja kita memiliki benteng tangguh dalam era globalisasi dan informasi sekarang ini, insya Allah masa depan dakwah kita akan tetap ceria.
Menyimak uraian-uraian di atas, dapat diprediksi bahwa misi dan tantangan dakwah tidaklah pernah akan semakin ringan, melainkan akan semakin berat dan hebat bahkan semakin kompleks dan melelahkan. Inilah problematika dakwah kita masa kini. Oleh sebab itu semuanya harus dimenej kembali dengan manajemen dakwah yang profesional dan dihendel oleh tenaga-tenaga berdedikasi tinggi, mau berkorban dan ikhlas beramal.
Mengingat potensi umat Islam yang potensial masih sangat terbatas, sementara kita harus mengakomodir segenap permasalahan dan tantangan yang muncul, maka ada baiknya kita coba memilih dan memilah mana yang tepat untuk diberikan skala prioritas dalam penanganannya, sehingga dana, tenaga, dan fikiran dapat lebih terarah, efektif, dan produktif dalam penggunaanya. Gerakan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah adalah gerakan yang penuh berkah (ash-shahwah al-mubarakah); gerakan yang penuh moderat (shahwah mu’tadilah), terpadu, terkendali, berkesinambunag dan jauh dari unsur ekstrimisme (at-tatharruf).

2. Jelaskan definisi etika dakwah menurut 3 ahli lalu rumuskan pendapat anda!

Etika dakwah merupakan pemikiran sistematis yang berusaha mengerti mengapa, atau atas dasar apa da’i atau da’iyah harus hidup menurut norma-norma tertentu.
Menurut saya, etika dakwah merupakan ilmu yang mengupas secara mendalam kegiatan dakwah yang mengikuti manhaj kenabian, yang meliputi membangun etika pendakwah dan menganalisis serta merumuskan strategi dakwah bagi mad’u sesuai dengan etika yang berlaku padanya.

3. Tulis 2 ayat al-Qur’an, 1 hadits tentang etika!

- QS. Al-Baqarah [2]:104 : [Etika berbicara dengan Nabi]

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa'ina", tetapi Katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.

- QS. Al-Hasyr [59]:9 : [Mendahulukan kepentingan orang lain]

“Artinya : Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.”

- Bulughul Maram , hadits no. 1468
َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ, وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ, فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu karena hal itu lebih patut agar engkau sekalian tiak menganggap rendah nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu." Muttafaq Alaihi.

4. Jelaskan hubungan dan perbedaan antara etika, etiket, moral, dan akhlaq!

Etika berasal dari bahasa Yunani, ethos berarti adat kebiasaan (Hamzah Ya’qub dalam Enjang AS, Aliyudin: 2009), secara terminologis berarti ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan tentang sesuatu yang harus dilakukan oleh manusia dalam perbuatan mereka, dan menunjukkan jalan yang seharusnya diperbuat (Ahmad Amin dalam Enjang AS, Aliyudin: 2009).
Etika adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika).
Etiket (etiquette) berarti ajaran sopan santun yang berlaku bila manusia bergaul atau berkelompok dengan manusia lain. Etiket tidak berlaku bila seorang manusia hidup sendiri, misalnya hidup di sebuah pulau terpencil atau di tengah hutan. Persamaan antara etika dengan etiket yaitu, etika dan etiket menyangkut perilaku manusia.
Moral berasal dari bahasa Latin mores jamak dari mos yang berarti adat kebiasaan dan secara terminologis adalah suatu ajaran tentang bagaimana kita harus hidup. Moral (Bahasa Latin Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia.
Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai keabsolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh.
Akhlaq adalah kata yang berasal dari bahasa Arab yang merupakan jamak dari kata khalqun yang berarti budi pekerti, adat kebiasaan, perangi, muru’ah atau sesuatu yang sudah menjadi tabi’at. Secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat. Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.

Perbedaan antara etika dengan etiket
1. Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia. Etiket menunjukkancara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalamsebuah kalangan tertentu. Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
2. Etiket hanya berlaku untuk pergaulan. Etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain. Barang yang dipinjam harus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah lupa.
3. Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam sebuahkebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Etika jauh lebih absolut. Perintah seperti “jangan berbohong”, “jangan mencuri” merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar.
4. Etiket hanya memadang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam. Penipu misalnya tutur katanyalembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiketnamun munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidakmungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikapetis. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.

5. Ajaran apa yang bisa diambil dari dakwah Rasul?
Kondisi penduduk Makkah dan Madinah sebelum datangnya islam sungguh gelap, terjadi perampokan, perjudian, perzinaan, pembunuhan, kecurangan dalam perdagangan, hingga penguburan hidup-hidup bayi perempuan. Setelah islam datang, secara perlahan tapi pasti keadaan tersebut berbalik seratus delapan puluh derajat, bahkan seluruh penduduk di jazirah Arab menjadi model masyarakat terbaik yang pernah ada di muka bumi. Setelah Muhammad saw, menerima wahyu pertama di Gua Hiro, kemudian beliau resmi diangkat sebagai Nabi dan Rasul Allah. Setelah itu turun wahyu untuk mengajak orang lain terhadap islam yang kemudian dinamakan dengan fase dakwah sirriyah (sembunyi-sembunyi), beliau pertama kali mengajak istrinya yakni Siti Khadijah ra, beliau pun beriman. Kemudian kepada sahabat karibnya yakni Abu Bakar ra, kemudian kepada Ali Bin Abi Thalib ra. sepupunya, dan Zaid bin Haritsah ra, anak angkatnya, mereka pun beriman. Melalui Abu Bakar ra, masuk islamlah Utsman bin Affan ra, Thalhah bin Ubaidilah ra, Sa’ad bin Abi Waqash ra, dan Abdurrahman bin Auf ra.
Rasulullah saw, mengokohkan keimanan dan kesabaran mereka dengan melakukan pembinaan (tarbiyah), agar kelak mereka siap untuk berdakwah kepada orang-orang yang tidak sabar dan cenderung menolak dakwahnya. Pembinaan tersebut dilakukan di rumah salah seorang sahabat, yakni Arqom bin Abil Arqom Al-Makhzumi ra,. Mereka dibina oleh Rasulullah saw, tentang tsaqofah islamiyah, yang meliputi tsaqofah jasmaniyah, tsaqofah ruhiah, dan tsaqofah ilmiyah.
Rasulullah saw, merupakan ancaman bagi kepentingan dan hidup kafir Quraisy yang dibangun di atas kezaliman. Beliau telah menghalangi jalan tersalurkannya hawa nafsu dan keserakahan mereka. Beliau saw, tidak berhasil mereka bujuk untuk mengikuti keinginan dan nafsu mereka. Para pengikut kebatilan, dulu maupun sekarang, melihat pembawa ajaran kebenaran sebagai musuh. Sebab para pengusung kebenaran itu berkata kepada mereka, “Tidak ada tempat bagi kemaksiatan, tidak ada waktu untuk mengikuti hawa nafsu, dan tidak ada ruang untuk kezaliman.”
Setelah masuk islamnya Umar bin Khattab ra, dan Hamzah bin Abdul Muthalib ra, serta turunnya perintah untuk dakwah secara terang-terangan , maka dimulailah fase dakwah dzahriyah (terang-terangan). Seluruh sahabat melakukan dakwah ke seluruh penjuru Makkah. Meski perjuangan mereka sangat bersat karena menghadapi penolakan yang kasar dari sebagian besar penduduk Makkah yang sangat berpegang teguh pada agama nenek moyangnya yakni menyembah berhala. Sehingga Rasulullah saw, memerintahkan mereka untuk hijrah ke Habasyah. Beliau juga berusaha untuk berdakwah ke Thaif, namun mereka pun menolak dakwah beliau saw,. Karena pembinaan (tarbiyah) yang dilakukan oleh Rasulullah saw, para sahabat tetap sabar dan tawakal serta tetap dalam keimanannya yang agung, serta cintanya kepada Allah dan rasul-Nya.
Istri beliau Siti Khadijah ra, adalah orang yang senantiasa menguatkan hati Rasulullah saw, di masa-masa beratnya dakwah islam. Beliau senantiasa menghibur saat sedih, selalu memotivasi saat hatinya gundah dan gelisah. Siti Khadijah ra, menjadi salah-satu faktor keberhasilan dakwah nabi saw. Orang-orang kafir Quraisy, para kerabat, dan paman-paman Rasulullah saw, bersekongkol untuk membunuh beliau. Dan atas perintah Allah beliau pun hijrah ke Yatsrib (Madinah) untuk mendapatkan kondisi yang lebih kondusif dalam rangka mengembangkan dakwah islam.

Fase Makkiyah (selama beliau berdakwah di Makkah)
1. Muhammad di Makkah yakni sebagai pedagang, kemudian diangkat sebagai nabi dan rasul, yang oleh para ahli disebut fase awal kehidupan Muhammad saw,
2. Penekanan dengan penyampaian dan penyebaran da’wah, baik secara rahasia ataupun secara terang-terangan, dimulai dari keluarga terdekat , sebagai penyelamatan manusia dari kesesatan kepada petunjuk yang terang, mengeluarkan umat manusia dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya Islam yang terang benderang.
3. Penekanan dengan melakukan tarbiyah kepada orang-orang yang menerima da’wah dan beriman kepada da’wah beliau saw, men-tazkiyah / menyucikan jiwa mereka, pembinaan ini dilakukan di rumah sahabat Arqam bin Abil Arqam Al-Makhzumi, untuk membentuk pondasi masyarakat Islami usaha yang dilakukan adalah :
• mengajarkan Dienul Islam
• mengaplikasikan Islam dalam kehidupan mereka.
• memperdalam makna ukhuwah islamiyah di antara mereka
• saling berwasiat dengan haq dan kesabaran
4. Berusaha untuk tidak memberikan perlawanan secara fisikal terhadap gangguan dan rintangan da’wah, cukup dengan jihad da’wah. Padahal musuh-musuh Islam menyerangnya dengan berbagai kekuatan fisikal. Bahkan Khobbab ibn Al-Arot ra, pernah mengadu kepada Rasulullah saw. tentang siksaan yang diderita oleh shahabat yang lain. Shahabat Khobbab lalu mengusulkan agar kaum Muslimin diizinkan memberikan perlawanan fisikal atau Rasulullah berdo’a kepada Allah untuk kehancuran orang-orang kafir. Tapi beliau menganggap tindakan itu sebagai langkah isti’jal .
5. Terus bergerak dengan da’wah, tidak hanya terfokus di Makkah, hijrahnya beberapa orang ke Habasyah (Sekarang Ethiopia), perginya beliau ke Tha’if, usaha beliau untuk menjalin hubungan dengan jemaah haji yang datang ke Makkah di musim haji merupakan bukti amanah beliau dalam menyampaikan Risalah Islam.
6. Kesinambungan kerja dalam meletakkan strategi dan langkah-langkah untuk masa depan da’wah islamiyah. Seperti mengadakan perjanjian dan sumpah setia (bai’at) dengan orang-orang Yatsrib, kemudian mengutus Mus’ab bin Umair (duta dakwah islam pertama) kepada mereka untuk mengajarkan Al Qur’an dan Islam, berusaha memiliki kontak dengan kabilah-kabilah di luar kota Makkah untuk mencari suaka dan tempat berlindung; Dan akhirnya beliau hijrah ke Yatsrib dengan strategi yang sangat rapi dan matang.

Pelajaran penting dari Hijrah Nabi saw,
 Keharusan untuk memadukan antara usaha dan strategi dengan tawakal
 Keharusan ikhlas dan menjauhi kepentingan-kepentingan pribadi dalam dakwah
 Bersikap bijaksana dalam kondisi lapang maupun sempit
 Keteguhan ahlul iman dalam kondisi sulit
 Barang siapa menolong agama Allah, maka Allah akan menjaganya
 Bahwa pertolongan harus melalui kesabaran
 Perlunya sikap santun dan menghadapi keburukan dengan kebaikan
 Penyebaran dan kuatnya islam
 Berdirinya hukum dan komunitas masyarakat islam
 Terjadinya ukhuwah islamiyah dan lenyapnya semangat ashabiyah, golongan dan kesukuan
 Catatan penting tentang mulianya kedudukan kaum muhajirin dan anshar
 Kehebatan metode pembinaan Nabi saw,
 Keistimewaan kota Madinah
 Pentingnya peran dan fungsi masjid bagi umat
 Besarnya peran kaum wanita dalam dakwah
 Besarnya peran pemuda
Setelah tiba pertolongan dari Allah melalui hijrah kaum muslimin ke Yatsrib atau Madinah, maka dakwah islam semakin berkembang. Kaum Anshor yang dimotori oleh kaum Aus dan Khajraj melakukan bai’at kepada Rasulullah saw, yang dinamakan Bai’atul ‘Aqobah 1 dan 2. Dakwah nabi saw beserta para sahabat berlangsung lebih mudah, karena kaum anshor sangat mudah menerima cahaya kebenaran islam yang dibawa islam. Dengan mengajarkan islam melalui Al-Qur’an dan sunnah Nabi saw, serta dibentuknya pondasi negara islam pertama di dunia (daulah islamiyah) terbentuklah tatanan masyarakat yang menjadi model masyarakat terbaik yang pernah ada di muka bumi.

Fase Madaniyah (selama beliau berdakwah di Madinah)
1. Muhammad di Madinah yakni sebagai politisi dan negarawan, serta sebagai pembebas, yang oleh para ahli disebut fase akhir kehidupan Muhammad saw,
2. Penekanan dalam pemantauan proses penyampaian da’wah, tarbiyah dan tazkiyah kepada orang-orang yang menerima da’wah dengan cara penyampaian Al Qur’an, mengajarkannya dan menerapkannya dalam kenyataan hidup mereka. Juga melakukan pembangunan masjid (Masjid Nabawi) sebagai tempat pembinaan umat, mempersaudarakan antara orang-orang Anshar dan Muhajirin serta terus mempererat hubungan persaudaraan di antara mereka.
3. Penuh perhatian dengan berdirinya suatu tatanan masyarakat atau tata perlembagaan masyarakat Islami (daulah) setelah ketiga unsurnya sempurna, yaitu :
 Adanya basis masyarakat yang beriman, hal ini sudah beliau persiapkan sejak diutusnya Mus’ab bin Umair ke Yatsrib sebelum Hijrah.
 Adanya basis geografis yang aman, di mana kota Yatsrib sangat strategis jiks dilihat dari berbagai aspeknya, di samping sebagai realisasi petunjuk Allah dalam mimpi beliau (mimpi seorang Nabi merupakan wahyu yang benar).
 Adanya aturan hidup yang jelas, yakni syari’at Islam yang terus mengatur interaksi masyarakat.
4. Penekanan pada melaksanakan aplikasi syari’at Islam bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa pandang bulu, baik untuk perorangan atau masyarakat luas. Malah beliau menegaskan, putri beliau tercinta pun tidak akan lepas dari hukum tersebut, apabila ia melanggar (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad).
5. Berusaha mengadakan perdamaian dengan musuh-musuh Islam yang mau berdamai dan berusaha untuk hidup berdampingan dalam suatu tatanan masyarakat Islami.
6. Menghadapi musuh-musuh Islam yang berusaha menyerang dengan jalan melakukan peperangan, mengadakan latihan dan patroli ketenteraan serta terus mengadakan mobilisasi pasukan mujahidin yang siap tempur bila saja beliau minta. Sebagai contoh adalah kisah Hanzalah. Beliau tidak sempat mandi junub setelah malam pengantinnya karena mendadak ada penggilan jihad menuju Uhud. Di dalam perang Uhud sahabat Hanzalah syahid. Malaikatlah yang memandikan beliau sebelum akhirnya dikuburkan oleh kaum muslimin.
7. Merealisasikan Alamiyatudda’wah Al-Islamiyah, sebagai Rahmatan lil ‘Alamin dengan cara mengirim utusan-utusan dan surat-surat da’wah ke berbagai daerah atau negara tetangga serta menerima tamu-tamu dari utusan negara lain sebagai bukti bahwa da’wah beliau untuk seluruh umat manusia. Berikut beberapa surat da’wah yang dikirim ke berbagai daerah :
 Heraclius sebagai Raja Romawi
 Amir Yamamah
 Amir Bahrain
 Kisra sebagai Raja Persia  Najasyi sebagai Raja Habsyi
 Muqauqis sebagai Gubernur Mesir
 Amir Oman

Berikut ini prinsip dakwah Nabi Muhammad saw, yang juga menjadi faktor keberhasilan dakwah beliau saw, :
1. Mengetahui keadaan medan (mad’u), melalui penelitian, dan perenungan
2. Melalui perencanaan pembinaan, pendidikan, dan pengembangan serta pembangunan masyarakat
3. Bertahap, diawali dengan cara diam-diam (marhalah sirriyah), kemudian cara terbuka (marhalah alaniyyah). Diawali dari keluarga dan teman terdekat, kemudian masyarakat secara umum
4. Melalui cara dan strategi hijrah, yakni menghindari situasi yang negatif untuk meraih situasi yang lebih positif
5. Melalui syiar ajaran dan pranata islam, antara lain melalui khutbah, adzan, iqamah, dan shalat berjamaah, ta’awun, zakat, dll
6. Melalui musyawarah dan kerja sama, perjanjian dengan masyarakat sekitar, seperti dengan Bani Nadhir, Bani Quraidzah, dan Bani Quinuqa
7. Melalui cara dan tindakan yang akomodatif, toleran, dan saling menghargai
8. Melalui nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan, dan pengertian
9. Menggunakan bahasa kaumnya, melalui kadar kemampuan pemikiran masyarakatnya (ala qadri uqulihim)
10. Melalui surat, sebagaimana telah dikirimkan kepada penguasa-penguasa
11. Melalui uswah hasanah dan syuhada ‘alannaas, dan melalui peringatan, dorongan dan motivasi (tarhib wa targhib)

Dari prinsip dan langkah dakwah di atas, kita dapat mengetahui kaidah-kaidah dakwah Rasulullah saw, sebagai berikut :
1. Tauhidullah
2. Ukhuwah Islamiyah
3. Musawah, yakni sikap persamaan sesama manusia, tidak arogan, tidak saling merendahkan
4. Musyawarah, menghargai pendapat orang lain
5. Ta’awun, yakni tolong-menolong
6. Takaful al-ijtima, yakni sikap senasib sepenanggungan, tanggung jawab bersama, solidaritas sosial
7. Jihad dan Ijtihad, semangat dan bersungguh-sungguh, kreatif, inovatif, aktif dalam segala persoalan
8. Fastahiq al-khayrat, berlomba-lomba dalam kebaikan
9. Tasamuh, toleransi, tenggang rasa, tidak memaksakan kehendak, menghargai perbedaan
10. Istiqamah, semangat disiplin, tidak goyah akan cobaan dan rintangan

Pelajaran yang dapat kami ambil dari perjalanan dakwah Nabi Muhammad saw, adalah :
1. Memberi gambaran yang jelas tentang tahapan dakwah yang harus dilakukan oleh setiap da’i
2. Memotivasi para da’i bahwa kelak akan datang pertolongan Allah dalam dakwah
3. Memberi gambaran tentang model masyarakat ideal, yakni masyarakat madinah yang telah menjalankan syariat Islam secara kapah.
4. Membangunkan kembali umat islam yang telah lama tidur.
5. Menyadarkan umat islam tentang pentingnya dakwah
6. Menyadarkan kembali umat islam tentanng idiolohi islam yang sesunguhnya
7. Menyadarkan umat islam kembali kepada jalan yang lurus yang di contohkan oleh Rasululah Saw
8. Mengingatkan kembali umat islam yang telah lupa dengan islamnya sendiri
9. Memberi kabar gembira akan kebangkitan umat islam kembali di dunia
10. Mengingatkan kembali umat islam tentang akhlak islam yang di contohkan oleh Rasululah Saw
11. Memberi gambaran tentang kondisi mad’u yang bervareasi dan metode dakwah yang diterapkan
12. Menumbuhkan kesadaran untuk membina kader kader dakwah secara konsisten dan terarah, sehinga siap menghadapi tantangan dakwah
13. Memberikan gambaran bahwa dakwah adalah kegiatan yang harus di lakukan terus menerus
14. Memberikan gambaran tentang strategi dakwah Rasululah Saw yang epektip dengan hasil yang optimal
15. Keharusan berdakwah di lakukan berjamaah



REFERENSI
al-Qur’an dan terjemahnya
al-Qarni, A’id Abdullah. Alqur’an Berjalan, Potret Keagungan Manusia Agung. Sahara Publishers Jakarta. 2005.
al-Siba’i, Mustafa. Peradaban Islam Dulu, Kini, dan Esok. Gema Insani Press. Jakarta. 1993.
al-Asqalany, Ibn Hajar. Bulughul Maram versi 2.0 ©. Pustaka Al-Hidayah. 2008
Artikel “Problematika Dakwah Masa Kini”, karya RB. Khatib Pahlawan Kayo.2005
Enjang AS, Aliyudin. Dasar-dasar Ilmu Dakwah, Widya Padjadjaran. Bandung. 2009
Film Sejarah Daulah Khilafah Islamiyah (570-1924) Seri 1 Membangun Peradaban Islam, El-Moesa Production. Yogyakarta. 2006.
Khalid, Khalid Muh. Kharakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, CV Penerbit Dipenogoro, Bandung, 1981
Nasr, Sayid Husen. Muhammad Kekasih Allah. Penerbit Mizan. Cetakan V. 1993
Muhyidin, Asep, Agus Ahmad Safei. Metode Pengembangan Dakwah. Bandung. Pustaka Setia. 2002.
Quthb, Muhammad. Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam?. Gema Insani Press. Jakarta. 1995.
Rus’an. Lintasan Sejarah Islam. Penerbit Wicaksana. Semarang. Cetakan II. 1981
Tabloid Hidayah, Pelajaran penting dari Hijrah Nabi saw, edisi 20-Dzulhijjad 1423 H/Maret 2003
Wikipedia, etika, moral, akhlak, diakses tanggal 5 Nopember 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share it