Selasa, 28 Agustus 2012

Memperindah Bacaan Al-Qur’an

by Fajar Burnama

Tajwid secara bahasa berarti membaguskan, sedangkan secara istilah merupakan mengeluarkan setiap huruf sesuai dengan haq dan mustahaqnya. Haq huruf adalah sifat asli yang senantiasa menyertai huruf seperti sifat al hams, al jahr, dan sebagainya. Sementara mustahaq huruf adalah sifat tambahan yang nampak sewaktu-waktu.
Hukum mempelajari ilmu tajwid secara bahasa adalah fardhu kifayah, sedangkan membaca Al-Qur’an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid hukumnya adalah fardhu ‘ain.

 “Dan Bacalah Al-Qur’an dengan tartil.”
(QS. Al-Muzammil ;4)
“Bacalah Al-qur’an dengan cara dan suara orang Arab yang fasih.”
(HR. Thabarani)

EPISODE KEHIDUPAN


by Fajar Burnama



Kebahagiaan bagai berlian di dalam sebuah laci yang terkunci pada lemari yang terkunci di dalam kamar yang terkunci di sebuah rumah yang terkunci dengan pagar tinggi yang terkunci, begitulah gambaran seorang ulama.
Dalam perjalanan hidup manusia, tentu yang diharapkan adalah kebahagiaan terus-menerus alias bahagia selalu, tapi mungkinkah? Hal ini mungkin terjadi apabila ukuran kebahagiaan kita adalah iman, sehingga setiap waktu kita akan merasa bahagia karena meyakini setiap episode kehidupan adalah buah dari kasih sayang Allah. Tetapi menjadi tidak mungkin manakala ukuran kebahagiaan semata nafsu dan prasangka.
Perhatikan firman Allah dalam Al-Qur’an:”Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.(QS. Ar-Ra’du [13]: 29)

Yang Lalu Biar Berlalu


from book: LAA TAHZAN (DR. AIDH' AL QARNI)

Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan didalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.
Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam 'ruang' penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam 'penjara' pengacuhan selamanya. Atau, diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.
Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam. Selamatkan diri Anda dari bayangan masa lalu!

Kamis, 08 Maret 2012

Silsilah Nabi Muhammad saw

by ibn akhdhar


'Adnan
Mu'ad
Nizar
Mudar
Ilyas
Mudrika
Khuzayma
Kinana
Al Nadr (Al Quraysh)
Malik
Fihr
Ghalib
Lu'ayy
Ka'ab
Murra
Kilab
Qussayy (Real name: Zayd)
'Abdu Manaf (Real name: Al Mughira)
Hashim (Real name: 'Amr) as Banu Hashim
'Abdu Al Mutallib (Real name: Shaiba)
'Abdullah
MUHAMMAD SAW,

Senin, 02 Januari 2012

definisi dakwah


by fajar ibn akhdhar

Pengertian dakwah yang sering diungkapkan oleh para ahli hampir memiliki kesamaan definisi antara satu dengan yang lainnya. Secara etimologi semua sepakat bahwasanya kata dakwah berasal dari kata benda (Isim) yang diambil dari kata kerja Transitif (Fi’il Muta’adi) yaitu Da’a Yad’u Daiyatan wa da’watan. Yang mengandung nilai dinamika yakni ajakan, seruan panggilan, atau permohonan. Makna-makna tersebut mengandung unsur upaya atau usaha yang dinamis.[1] Adapun secara terminologi, dakwah merupakan suatu proses atau upaya untuk merubah suatu situasi kepada situasi yang lebih baik sesuai ajaran Islam atau proses mengajak manusia ke jalan Allah yaitu al-Islam.[2]
Menurut Ibnu Taimiyah, yang dikutip oleh Syaikh Akram Kassab dari kitab Majmu’ Al-Fatawa, dakwah adalah ajakan untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta pada yang dibawa oleh Rasulullah dengan mempercayai apa yang disampaikan dan mentaati apa yang diperintahkan.[3]
Menurut Syaikh Al-Qardhawi, yang dikutip oleh Syaikh Akram Kassab dari kitab Tsaqah Ad-Daiyah, “Dakwah adalah mengajak keadaan Islam, mengikuti petunjuk-Nya, mengokohkan manhaj-Nya di muka bumi, beribadah kepada-Nya, memohon pertolongan dan taat hanya kepada-Nya, melepaskan diri dari semua ketaatan kepada selain-Nya, membenarkan apa yang dibenarkan oleh-Nya, menyalahkan apa yang disalahkan-Nya, menyuruh kepada yang makruf, mencegah yang mungkar, dan berjihad di jalan Allah, atau dengan kata lain yang lebih singkat, berdakwah kepada Islam secara khusus dan sepenuhnya, tanpa balasan dan imbalan”


[1]     Lihat Asep Muhyidin dan Agus Ahmad Syafe’i, Metode Pengembangan Dakwah, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), hlm. 27.
[2]     Lihat  A. Hasjmy, Dustur Dakwah dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), hlm. 17.
[3]     Lihat Syaikh Akram Kassab, Metode Dakwah Yusuf Al-Qardhawi, terj. Muhyidin Mas Ridha (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), hlm. 1.

Jumat, 29 Juli 2011

MARHABAN YAA RAMADHAN




Angin kemuliaan telah berhembus, menerpa kalbu yang haus sentuhan. Cahaya keridhoan memancar menusuk kegelapan nurani dan pemikiran. kehidupan terasa berlalu tak bernilai. Hela nafas serasa tak ada harganya. Kini waktu peringatan telah datang. Kesempatan tuk membina semuanya ndari awal dan merajut impian masa datang yang gemilang. Ramadhan yang mulia tengah menyapa dengan senyuman merekah menenangkan jiwa dan menyadarkan perhatian.

Akankah kau ku acuhkan kali ini. Di saat kurasa rintangan dan ancaman datang dari segala arah. Di saat kian bingung aku dengan pilihan prioritas. Kini ku berdiri di persimpangan yang mudah tapi terasa amat sulit tuk memilih. Dulu pun aku rasa tak terlalu bagus, kini, entahlah.

Ragam program masih kupikirkan untuk membuatmu semarak dan kian bermakna. Perbaikan dan pengobatan raga dan hati yang seakan tak hidup dengan wajar. Berdiam diri telah seakan kesibukan yang tak mau hilang. Potensi yang menggunung pun seakan tak ada entah kemana. Prasangka telah kian menguras tenaga dan air mata tak bermakna. Bukan! bukan seperti ini yang kuinginkan, bukan ini yang kuharapkan, bukan ini yang kuidam-idamkan.

Keteguhan hati pada Ilahi yang serasa tak bertaji. Dimana kekuatan iman yang dulu kurasa hinggap di dada. Terduduk pun aku bisa merasakan kehadirannya, dulu. Kini, entahlah, aku tak tahu betapa aku telah amat terperosok pada jebakan kemilau panca indera yang melenakan. Waktu kuabaikan dan ilmu kudiamkan tak bergerak. Astaghfirullah... Ampuni hamba-Mu ini Yaa Allah.

Tapi tekadku kurasa bulat, saat inilah kesempatan yang paling berharga buatku. Apapun mereka lakukan tuk menggodaku akan aku hadang dentgan sekuat tenaga. Tak kan kuindahkan nyanyian merdu mereka. Kan kututup mata, telinga, hati pada semua yang menjerumuskan aku pada kehinaan yang tiada tara. Kumohon kekuatan dari-Mu. Moga Ramadhanku kali ini terbaik, terindah, dan paling bermakna. tunggu kelahiranku.......

Kamis, 30 Desember 2010

JAWABAN UAS SID

by fajarburn

Jawaban :


1. Sebutkan dan jelaskan enam alasan mengapa sistem informasi sangat penting bagi kegiatan dakwah!

- Membuat pengambilan keputusan akan lebih efektif dilakukan dan sistematis serta tepat juga cepat, dengan adanya perangkat-perangkat sistem informasi seperti DSS, ESS, dll

- Menjadikan penyusunan perencanaan akan lebih rapih dan terarah karena didukung dengan data dan sistem yang sesuai dengan kebutuhan, dengan adanya data yang lengkap dalam databadse

- Membuat pengawasan dalam aktifitas dakwah bisa terus dilakukan, dengan berbagai aplikasi dan fitur sistem informasi

- Evaluasi proses dakwah bisa lebih mengena dan terukur karena telah tersedia program untuk hal tersebut

- Mempermudah hubungan antar organisasi dakwah dengan sistem telekomunikasi dalam sistem informasi

2. Apa yang dimaksud dengan sistem informasi? Kegiatan-kegiatan apa yang dilakukan oleh sistem informasi?

Suatu sistem pada dasarnya adalah sekolompok unsur yang erat hubungannya satu dengan yang lain, yang berfungsi bersamasama untuk mencapai tujuan tertentu.Secara sederhana, suatu sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau himpunan dari unsur, komponen, atau variabel yang terorganisir, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain, dan terpadu. Dari defenisi ini dapat dirinci lebih lanjut pengertian sistem secara umu, yaitu :

a. Setiap sistem terdiri dari unsur-unsur

b. Unsurunsur tersebut merupakan bagian terpadu sistem yang bersangkutan.

c. Unsur sistem tersebut bekerja sama untuk mencapai tujuan sistem.

d. Suatu sistem merupakan bagian dari sistem lain yang lebih besar.

Secara umum informasi dapat didefinisikan sebagai hasil dari pengolahan data dalam suatu

bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian­kejadian yang nyata yang digunakan untuk pengambilan keputusan. Informasi merupakan data yang telah diklasifikasikan atau diolah atau diinterpretasi untuk digunakan dalam proses pengabilan keputusan.

Senin, 06 Desember 2010

CITA-CITA TAHUN 1432 HIJRIYAH

CITA-CITA TAHUN 1432 HIJRIYAH


1 LULUS KULIAH
2 NGAJI TAFSIR KONTINYU
3 NGAJI HADITS KONTINYU
4 NULIS ARTIKEL DAN BUKU TIAP HARI
5 MENCARI CALON JODOH YANG TERBAIK
6 MENAMBAH PENDAPATAN
7 MEMPERBAIKI AKHLAQ
8 TAHAJJUD TIAP HARI
9 PERHARI MINIMAL 1 JUZ ALQUR'AN, MAKNA
10 PELAJARI TATA CARA IBADAH LEBIH INTENSIF

Senin, 29 November 2010

MENJENGUK ORANG SAKIT

-ibn akhdhar-

1. Hukum menjenguk orang sakit
- Hadits nabi saw,
“Dari Abu Hurairah ra, ia mengatakan, ‘Rasulullah saw, bersabda : Hak setiap muslim terhadap muslim lainnya ad lima yaitu, menjawab salam, melawat yang sakit, mengantarkan jenazah, memenuhi undangan, dan menjawab (mendo’akan) yang bersin ’.”
(HR. Bukhari: 244, dan Muslim II: 344)
- Hadits nabi saw,
“Dari Abu Musa Al-Asy’ari, ia berkata, ‘ Rasulullah saw, bersabda : Beri makanlah yang kelaparan, jenguklah orang yang sakit, dan bebaskanlah tawaran’.” (HR. Bukhari:1215)
- Nabi saw, bersabda :
“Dari Bara bin ‘Azid, ia berkata, ‘Rasulullah saw, memerintah kami akan tujuh hal penting : yaitu agar kami mengantar jenazah, melawat orang sakit, dan menyebarkan salam,…’.” (HR. Bukhari : 1215)
Asal setiap perintah menunjukkan wajib, tetapi karena tidak ada ancaman bagi yang tidak melaksanakannya sama sekali, jadilah hukumnya sunah muakkadah (sunah yang mengikat).

HADITS-HADITS PERGAULAN

-ibn akhdhar-

1. Makruh menjawab dengan kata "aku" bagi orang yang minta izin ketika ditanya "siapa ini?"
• Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:
Aku datang mengunjungi Nabi saw. lalu menyapa kemudian Nabi saw. bertanya: Siapa ini? Aku menjawab: Aku. Nabi saw. lalu keluar seraya berucap: Aku, aku. (Shahih Muslim No.4011)

2. Pengendara sepatutnya mengucapkan salam kepada pejalan kaki dan kelompok yang beranggota lebih sedikit mengucapkan salam kepada kelompok yang beranggota lebih banyak
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Seorang pengendara hendaknya mengucapkan salam kepada pejalan kaki dan pejalan kaki mengucapkan salam kepada orang yang duduk dan jamaah yang beranggota lebih sedikit mengucapkan salam kepada jamaah yang beranggota lebih banyak. (Shahih Muslim No.4019)

DA’I DALAM KEHIDUPAN KELUARGA

-ibn akhdhar-

Setelah Muhammad saw, menerima wahyu pertama di Gua Hiro, kemudian beliau resmi diangkat sebagai Nabi dan Rasul Allah. Setelah itu turun wahyu untuk mengajak orang lain terhadap islam yang kemudian dinamakan dengan fase dakwah sirriyah (sembunyi-sembunyi), beliau pertama kali mengajak istrinya yakni Siti Khadijah ra, beliau pun beriman. Kemudian kepada sahabat karibnya yakni Abu Bakar ra, kemudian kepada Ali Bin Abi Thalib ra. sepupunya, dan Zaid bin Haritsah ra, anak angkatnya, mereka pun beriman. Melalui Abu Bakar ra, masuk islamlah Utsman bin Affan ra, Thalhah bin Ubaidilah ra, Sa’ad bin Abi Waqash ra, dan Abdurrahman bin Auf ra. Rasulullah saw, mengokohkan keimanan dan kesabaran mereka dengan melakukan pembinaan (tarbiyah), agar kelak mereka siap untuk berdakwah kepada orang-orang yang tidak sabar dan cenderung menolak dakwahnya. Pembinaan tersebut dilakukan di rumah salah seorang sahabat, yakni Arqom bin Abil Arqom Al-Makhzumi ra,. Mereka dibina oleh Rasulullah saw, tentang tsaqofah islamiyah, yang meliputi tsaqofah jasmaniyah, tsaqofah ruhiah, dan tsaqofah ilmiyah.

KIPRAH DA’I DALAM KEHIDUPAN SOSIAL

-ibn akhdhar

Setelah Muhammad saw, menerima wahyu pertama di Gua Hiro, kemudian beliau resmi diangkat sebagai Nabi dan Rasul Allah. Setelah itu turun wahyu untuk mengajak orang lain terhadap islam yang kemudian dinamakan dengan fase dakwah sirriyah (sembunyi-sembunyi), beliau pertama kali mengajak istrinya yakni Siti Khadijah ra, beliau pun beriman. Kemudian kepada sahabat karibnya yakni Abu Bakar ra, kemudian kepada Ali Bin Abi Thalib ra. sepupunya, dan Zaid bin Haritsah ra, anak angkatnya, mereka pun beriman. Melalui Abu Bakar ra, masuk islamlah Utsman bin Affan ra, Thalhah bin Ubaidilah ra, Sa’ad bin Abi Waqash ra, dan Abdurrahman bin Auf ra. Rasulullah saw, mengokohkan keimanan dan kesabaran mereka dengan melakukan pembinaan (tarbiyah), agar kelak mereka siap untuk berdakwah kepada orang-orang yang tidak sabar dan cenderung menolak dakwahnya. Pembinaan tersebut dilakukan di rumah salah seorang sahabat, yakni Arqom bin Abil Arqom Al-Makhzumi ra,. Mereka dibina oleh Rasulullah saw, tentang tsaqofah islamiyah, yang meliputi tsaqofah jasmaniyah, tsaqofah ruhiah, dan tsaqofah ilmiyah.

TEKNIK DEBAT DALAM ISLAM

-ibn akhdhar-

BAGIAN 1
Dasar-Dasar Kaifiyat Mujadalah

Pengertian kaikfiyat adalah hal,peri, sifat, tata cara, kaidah, metoge, atau teknik. Adapun mujadalah adalah keras atau kuat. Bertukar pikiran, berdiskusi atau berdebat.
Kaifiyat mujadalah adalah
- Ilmu yang mempelajari poko-pokok atau kaidah umum untuk mengetahui sistematis atau tidaknya suatu pemikiran, pembentukan ide atau konsep
- Ilmu yang mempelajari kaidah bentukan pemikiran dari dua pihak mengenai hubungan antara sesuatu untuk mencari kebenaran
- Ilmu yang memmpelajari cara atau tata tertib berunding, membahas atau membantah suatu masalah dengan maksud mencari kebenaran
Kandungan kaifiyat mujadalah

Definisi, Komponen dan Model Komunikasi Antar Budaya

-ibn akhdhar-

Komunikasi merupakan hal yang pasti dilakukan oleh manusia dalam kehidupannya, demikian juga dengan hewan. Komunikasi merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia dalam menjalani kehidupannya. Bahkan seorang bayi pun sudah dapat melakukan komunikasi, seperti ketika ia menangis itu bias jadi menandakan bahwa ia sedang lapar atau tidak nyaman. Maka jelaslah bahwa komunikasi adalah hal penting yang harus dipelajari dan dipahamai.
Setiap perilaku dapat menjadi komunikasi bila kita memberi makna terhadap perilaku orang lain atu perilaku kita sendiri. Setiap orang akan sulit untuk tidak berkomunikasi karena setiap perilaku berpotensi untuk menjadi komunikasi untuk ditafsirkan.

Minggu, 28 November 2010

Kitab – Kitab Tafsir yang Terkenal

-ibn akhdhar-

A. Tafsir bil Ma’sur
1. Tafsir yang disandarkan kepada Ibnu Abbas –Tanwirul Miqbas min Tafsiri Ibn Abbas- disusun oleh Abu Tahir Muhammad bin Ya’qub al-Fairuzabadi asy-Syafi’i.
2. Tafsir Ibn Jarir at-Tabari, Jami’ul bayan fi tafsiril Qur’an.
3. Tafsir Ibn Abi Hatim
4. Tafsir Abusy Syaikh bin hibban.
5. Tafsir Abu Lais as-Samarqandhi, Bahrul-Ulum.
6. Tafsir Abu Ishaq, al-Kasyfu wal bayan ‘an tafsiril Qur’an.
7. Tafsir Abu Fida Ibn Katsir, Tafsirul Qur’anil Adzim.
8. Tafsir Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Durrul Mansar fil Tafsiri bil-Ma’tsur.
9. Tafsir asy-Syaukani, Fathul Qadir.

Terjemah, Tafsir dan Ta’wil & Perkembangan Tafsir (syarat, adab mufasir)

-ibn akhdhar-

Terjemah, Tafsir dan Ta’wil

A. Terjemah (Translate)
Pengertian terjemah adalah memindahkan kalam dari suatu bahasa kepada bahasa yang lain. Terjemah dibagi dua yaitu secara harfiah (litterlijk) dan secara tafsiriyyah (ma’nawiyah). Terjemahan secara harfiah (litterlijk) sangat tidak dianjurkan untuk orang awam yang umum, kecuali untuk pelajar yang mempelajari bahasa.Terjemahan yang disarankan untuk orang awam yang umum adalah terjemahan yang tafsiriyaah (ma’nawiyah).
Contoh dalam QS Al-Qamar [54] : 13, bila diterjemahkan secara harfiyah adalah :
“Dan kami bawa dia (Nabi Nuh) diatas yang mempunyai papan-papan dan paku-paku. Ia berjalan dengan mata-mata Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang tidak dipercayai”

Kaidah Mutlaq (tanpa batasan) – Muqayyad (dengan batasan)

-ibn akhdhar-

Mutlaq adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat tanpa suatu pembatas (qayid). Contohnya dalam QS Al-Mujadalah [58] : 3 :
“Dan orang-orang yang menzihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atas mereka) memerdekakan seorang budak ….”
Lafazh “budak” diatas tanpa dibatasi, meliputi segala jenis budak, baik yang mukmin maupun kafir.
Muqayyad adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat dengan suatu pembatas (qayid). Contohnya dalam QS An-Nisa’ [4] :92 :
“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaknya) ia memerdekakan seorang budak yang beriman”

Kaidah Mujmal (global) – Mufassar/Mubayyan (ditafsirkan/dijelaskan)

-ibn akhdhar-

Lafazh mujmal adalah lafazh yang global, masih membutuhkan penjelasan (bayan) atau penafsiran (tafsir).
Untuk memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap lafazh yang mujmal maka tidak ada jalan lain kecuali harus kembali kepada syar’i, karena memang Dia lah yang menjadikannya sebagai lafazh yang mujmal.
Mubayyan adalah lafazh yang sudah dijelaskan dari keglobalannya.
Klasifikasi Mubayyan berdasarkan sumber yang menjelaskannya :
1. Mubayyan Muttashil, adalah mujmal yang disertai penjelasan yang terdapat dalam satu nash. Misalnya dalam QS An-Nisa’ [4] : 176, lafazh “kalalah” adalah mujmal yang kemudian dijelaskan dalam satu nash;

Kaidah Makna Kata (lafazh) & Kaidah Am (umum) – Khas (khusus)

-ibn akhdhar-

Kaidah Makna Kata (lafazh)

A. Makna Hakikah (lahir)
Makna hakihah adalah makna lahir (harfiah/lughawiyah).
Hakikah diklasifikasikan menjadi :
1. Lughawiyyah Wadhi’iyyah, yaitu kata yang digunakan untuk menunjukkan makna hakiki berdasarkan konteks penggunaan asal kata tersebut. Selain itu biasa disebut pula dengan hakikah al lughawiyyah saja. Misalnya kata “rajul” yang digunakan untuk menyebut laki-laki dewasa.
2. Lughawiyya Manqulah, yaitu kata yang digunakan untuk menunjukkan makna hakiki setelah mengalami transformasi makna, baik yang dilakukan oleh ahli bahasa maupun pembuat syariat. Kata jenis ini, bisa diklasifikasikan menjadi dua bagian, sebagai berikut :
a. Al-Urfiyyah, yaitu transformasi makna dari makna asal karena kebiasaan. Misalnya kata “ad-dabbah” (hewan melata) menjadi makna lain yang lebih populer. Berdasarkan asal maknanya mempunyai konotasi semua mahkluk hidup yang melata dimuka bumi, yang meliputi manusia dan hewan. Kemudian digunakan orang Arab dengan konotasi hewan berkaki empat sehingga makna asalnya ditinggalkan.

Kaidah Syarat – Jawab & Kaidah Petunjuk Kata (Dalalah Lafazh)

-ibn akhdhar-

Kaidah Syarat – Jawab

Dalam ilmu nahwu (tata bahasa Arab), kata-kata syarat (adawatusy-yarth) itu terbadi dalam dua bagian :
1. Kata syarat yang menjazamkan fi’il : in, idzma, ma, mata, man, kaifama, haitsuma, aina, ayyana, ayyun dan mahma.
2 Kata syarat yang tidak menjazamkan : lau, laula, idza, kullama dan lamma.
Kalimat yang didahului dengan kata syarat dinamakan jumlah syarthiyyah.
Beberapa Contoh Kata Syarat Dalam Al-Qur’an :
1. In (jika) dalam QS Al-Baqarah [2] : 284.
2. Idza (bila, jika) dalam QS [110] : 1-3.
3. Man (barang siapa) dalam QS [4] : 110.
4. Mahma (apapun) dalam QS [7] : 132
5. Aina (dimana) dalam QS [4] : 78.
6. Ayyun (apa) dalam QS [17] : 110.
7. Lau (jikalau, kiranya) dalam QS [9] : 42.